Selasa, 29 Mei 2012

LAPORAN MANAJEMEN KUALITAS AIR


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya merupakan suatu kegiatan dimana salah satu tujuannya yaitu untuk melestarikan suatu organisme atau makhluk hidup yang bernilai ekonomis dimana dilakukan dalam lingkup yang terkontrol. Dalam kegiatan budidaya tersebut, tentunya para pembudidaya harus benar – benar mengelolah suatu usaha budidayanya dengan baik untuk kelangsungan hidup organisme yang dibudidayakan, dalam hal ini terhadap para pembudidaya ikan.
Air merupakan salah satu media yang secara langsung dapat mempengaruhi kelangsungan hidup organisme akuatik yaitu ikan, misalnya terhadap kondisi fisika dan kimianya. Dalam hal ini, peran pembudidaya sangat dibutuhkan dalam manajemen atau cara pengelolaan yang baik dan terstruktural mulai dari pra produksi hingga pemasaranya.
Pada daerah sulawesi tengah, khususnya terhadap masyarakatnya, tak sedikit dari mereka yang menggantungkan kehidupanya sebagai masyarakat pembudidaya ikan demi memenuhi kebutuhan ekonominya. Salah satunya di wilayah kabupaten poso sulawesi tengah. Wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi untuk terciptanya usaha budidaya perikanan. Oleh karena itu, dengan melihat potensi perikanan budidaya khususnya di sulawesi tengah yaitu di kabupaten poso, maka perlu dilakukanya praktek lapang agar kita sebagai praktikan dapat mengetahui secara langsung tentang manejemen dari budidaya ikan tersebut.
1.2 Tujuan dan kegunaan
Tujuan praktek lapang  yaitu untuk mengetahui dan mempelajari pengelolaan kualitas air pada kegiatan budidaya di Kabupaten Poso. Kegunaanya yaitu sebagai tambahan ilmu pengetahuan secara langsung kepada praktikan tentang manejemen budidaya perikanan.


















II. METODE PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG
2.1 Waktu dean Tempat
Kegiatan Praktek Lapang mengenai Manejemen Kualitas Air dilaksanakan mulai hari sabtu tanggal 13 sampai hari minggu tanggal 14 April 2012, dimulai pada pukul 16.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

2.2 Metode Pelaksanaan Praktek
Metode pelaksanaan praktek lapang yaitu sebagai berikut :
1.        Melakukan wawancara langsung kepada narasumber dengan beberapa quisioner.
2.        Melakukan  observaasi atau pengamatan secara langsung pada lokasi budidaya.
3.        Mengambil referensi dari berbagai buku perpustakaan.









III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1    Keadaan Umum Lokasi Praktek
Keadaan umum lokasi praktek yang berada di Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah, sangat strategis untuk dilakukanya usaha budidaya ikan khususnya ikan air tawar. Dimana wilayah tersebut memiliki perairan sungai yang cukup banyak dan luas. Dalam keluasan perairan sungai tersebut, tak sedikit masyarakat yang memanfaatkan potensi tersebut sebagai wadah atau tempat usaha budidaya. Didukung lagi sangat banyak organisme yaitu ikan yang hidup di dalamnya, serta sumber bibit ikan tidak begitu jauh dari wilayah tersebut sehingga dapat memudahkan para pembudidaya.
Adapun gambaran keadaan lokasi praktek yaitu sebagai berikut :







Gambar 1. Keadaan Letak Geografis Kabupaten Poso.
Kabupaten Poso wilayahnya membentang dari arah Tenggara ke Barat Daya dan melebar dari arah Barat ke Timur dan sebagian besar berada di daratan pulau Sulawesi. Bagian wilayah lainnya terdiri dari laut dan pulau-pulau, yang diperkirakan jumlah seluruh pulau sekitar 81 pulau yang sudah bernama dan yang berpenghuni sekitar 40 pulau. Letak wilayah Kabupaten Poso dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain letak astronomis, geografis dan geologis            (Militer, 2004).
Letak astronomis Kabupaten Poso berdasarkan garis lintang dan garis bujur wilayahnya terletak pada koordinat 0006’56”-3037’41” Lintang Selatan dan 120005’25”-123006’17” Bujur Timur. Berdasarkan letak astronomisnya, panjang wilayah Kabupaten Poso dari ujung barat sampai ujung Timur 1230 diperkirakan jaraknya kurang lebih 696 km. Lebarnya dari Utara ke Selatan 30 dengan jarak lebih kurang 396 km. Letak geografis Kabupaten Poso dilihat dari posisinya terletak pada pesisir pantai, sebagian terletak di perairan Teluk Tomini dan bagian lainnya terletak di perairan Teluk Tomini dan Teluk Tolo. Kawasan lain pada umumnya terletak di kawasan hutan dan lembah pegunungan. Sedangkan letak geologisnya, terletak pada deretan pegunungan lipatan, yakni pegunungan (Militer, 2004).
Fennema dan Tineba di bagian Barat, pegunungan Takolekaju di bagian Barat Daya, pegunungan Verbeek di bagian Tenggara, pegunungan Pompangeo dan pegunungan di bagian Timur Laut. Wilayah Kabupaten Poso dibatasi oleh batas alam yakni kawasan pantai dan pegunungan perbukitan dengan batas administrasif: sebelah utara berbatasan dengan Teluk Tomini dan Propinsi Sulawesi Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Morowali, sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banggai dan perairan Teluk Tolo, dan sebelah Barat berbatasan dengan  Kabupaten Donggala (Militer, 2004).

3.2    Pengenalan Organisme Yang Di Budidayakan
3.2.1 Ikan Sidat (Angguila bicolor)





Gambar 2. Ikan Sidat (Anguguila bicolor)          
Menurut Juniawati (2004), klasifikasi ikan sidat (Anguguila bicolor) yaitu sebagai berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
               Kelas : Actinopterygii
                           Ordo : Anguilliformes
                                       Genus : Anguilloidei
                                                   Spesies : Anguillidae
Ikan sidat (Angguila bicolor) memiliki bentuk gambaran secara morfologis yang relatif menyerupai belut. Dalam penggolongannya termasuk dalam famili anguilidae dan spesies anguilla sp. Sidat dewasa memiliki karakteristik utama memiliki bentuk tubuh menyerupai belut, tetapi apabila diperhatikan dengan seksama terdapat beberapa perbedaan bentuk morfologinya yang cukup nyata antara belut dan sidat. Perbedaa yang jelas terlihat yaitu pada sidat memiliki sirip ekor, sirip punggung, dan sirip dubur yang sudah sempurna . sedangkan pada belut tidak memiliki sirip sama sekali. Sirip pada sidat dilengkapi dengan jari-jari lunak yang dapat terlihat dengan mata telanjang. Jika mengamatinya, ke tiga sirip yang dimiliki oleh sidat saling berhubungan menjadi satu, mulai dari punggung hingga ke ekor dan berakhir di bagian ventral ( depan ) tubuhnya. Dari semua spesies yang ada sebanyak tujuh spesies, salah satu karakteristik yaitu warna tubuh. Tujuh spesies yang sudah diketahui memiliki warna tubuh yang coraknya berbeda, sedangkan spesies lainnya polos (Juniawati, 2004)
Berdasarkan hasil pengamatan langsung yang berada di desa bonesompe bahwa ikan sidat tersebut dibudidayakan pada karamba jaring tancap, dimana berdasarkan hasil wawancara bahwa asal ikan sidat tersebut diambil disekitaran wilayah kabupaten poso dalam keadaan bukan dalam bentuk bibit, melainkan sudah dalam keadaan besar. Berdasarkan hasil wawancara bahwa ikan sidat yang dibudidayakan memiliki panjang ± 50 – 70 cm. Kemudian untuk pakan yang diberikan berupa isi perut ayam dan cacing tanah. Kemudian untuk penyakit yang sering menyerang ikan sidat tersebut yaitu jamur.






3.2.2 Ikan Mas (Cyprinus carpio)


                                                                                                                   

Gambar 3. Ikan  Mas (Cyprinus carpio).
Menurut Rochdianto (2005), klasifikasi ikan Mas (Cyprinus carpio) yaitu sebagai berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
               Kelas : Actinopterygii
                           Famili : Cyprinidae
                                       Genus : Cyprinus
                                                   Spesies : Cyprinus carpio
Ikan mas (Cyprinus carpio) menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150--600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%o (Rochdianto, 2005).
Berdasarkan hasil pengamatan langsung yang berada di desa gebang rejo kabupaten poso, bahwa ikan mas (Cyprinus carpio) tersebut dibudidayakan pada karamba jaring tancap, dimana berdasarkan hasil wawancara bahwa asal ikan tersebut dari bibit alami dengan ukuran 3 cm. Pakan yang diberikan yaitu berupa pelet dan kangkung. Kemudian untuk penyakit yang sering menyerang ikan mujair tersebut yaitu jamur.

3.2.3 Ikan Nila (Oreochromis niloticus)






 Gambar 4. Ikan  Nila (Oreochromis niloticus)
Menurut Susanto (2009), klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sebagai berikut:
Family : Cichilidae
             Filuum : Chordata
                          Klass : Pisches
                                    Ordo :  Percomorphi
                                                Genus : Oreochromis
                                                              Spesies : Oreochromis niloticus
Ikan nila (Oreochromis niloticus) peliharaan yang berukuran sedang, panjang total (moncong hingga ujung ekor) mencapai sekitar 30 cm dan kadang ada yang lebih dan ada yang kurang dari itu. Sirip punggung ( pinnae dorsalis) dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (pinnae analis) dengan 3 duri dan 8-11 jari-jari. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim berbiak.ada garis linea literalis pada bagian truncus fungsinya adalah untuk alat keseimbangan ikan pada saat berenang (Khairuman, 2008).
Berdasarkan hasil praktek lapang, ada dua metode dalam pembudidayaan ikan nila (Oreochromis niloticus) tersebut, yaitu dengan menggunakan karamba jaring tancap dan kolam. Pada umunya berdasarkan hasil wawancara pada pemberian pakanya umumnya sama yaitu dengan menggunakan pelet, dan untuk penyakit yang menyerang yaitu jamur.








3.2.4 Ikan Lele (Clariass sp)



                            Gambar 5. Ikan  Lele (Clariass sp)
Menurut Mustafa (1992), klasifikasi ikan Lele (Clariass sp) yaitu sebagai berikut :
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
               Kelas : Actinopterygii
                           Famili : Clariidae
                                       Genus : Clarias
                                                   Spesies : Clarias sp
Ikan lele (Clariass sp) adalah ikan budidaya air tawar yang sangat populer. Produksi budidaya meningkat tajam tiap tahun, selama lima tahun terakhir, antara lain karena luasnya pasar bagi lele. Lele disukai konsumen karena berdaging lunak, sedikit tulang, tidak berduri, dan murah. Dari sisi budidaya, lele relatif tidak memerlukan banyak perawatan dan memiliki masa tunggu panen yang singkat (Mustafa, 1992).
Berdasarkan hasil pengamatan langsung yang berada di desa pandiri, kecamatan labe, kabupaten poso, bahwa ikan lele tersebut dibudidayakan pada tambak atau kolam. dimana berdasarkan hasil wawancara bahwa untuk pakan yang diberikan yaitu berupa pelet. Kemudian untuk penyakit yang sering menyerang ikan lele tersebut yaitu jamur.

3.3    Metode Budidaya
3.3.1   Karamba Jaring Tancap
3.3.1.1   Lokasi Pertama
Berdasarkan hasil praktek lapang yang dilakukan pada lokasi pertama yang berada di desa bonesompe kabupaten poso, pada budidaya ikan sidat (Angguila bicolor) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) yaitu dengan  menggunakan karamba jaring tancap dengan kata lain menggunakan sistem karamba permanen yang mengharapkan sumber perairan dari sungai. Pada karamba tersebut peroritas yang dibudidayakan yaitu ikan sidat. Berdasarkan hasil wawancara bahwa pada lokasi budidaya tersebut memiliki 2 tempat pembesaran, dimana untuk pembesaran pertama dengan ukuran 1,5 x 2 meter, dan untuk tahap pembesaran kedua yaitu dengan ukuran 2 x 3 meter dalam hal ini untuk ikan sidat.
Kemudian mengenai alat karamba tersebut menggunakan rangka besi yang berbentuk kotak, jaring katrol hijau berlapis dua dengan ukuran mata jaring       0,5 cm dan bambu yang merupakan dinding dari karamba tersebut. Berdasarkan hasil wawancara, pada peletakan karamba tersebut air yang masuk pada jaring tersebut dengan ketinggian 75 cm. Kemudian mengenai pengelolaanya pada pemberian pakan dilakukan secara teratur mulai dari pagi, siang dan sore hari dengan menggunakan isi perut ayam untuk ikan sidat dan pelet untuk ikan nila. Begitu pun seterusnya sampai ± 3 minggu baru dilakukanya panen atau pemasaran. Pada proses pemasaranya berdasarkan hasil wawancara, ikan tersebut sampai di ekspor ke luar daerah seperti palu, parigi dan morowali, dan ada juga para konsumen yang dari luar seperti dari daerah tentena datang langsung ke tempat lokasi budidaya tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa usaha budidaya karamba jaring tancap tersebut, terkadang mengalami pencemaran seperti sampah, baik itu berupa sampah organik maupun anorganik yang bersumber dari aktifitas manusia. Akibatnya ikan yang dibudidayakan mengalami serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Berdasarkan hasil wawancara adapun cara penanggulangan penyakit tersebut yaitu dengan melakukan pembersihan sampah pada lingkungan karamba tersebut seperti pada jaringnya.
Selanjutnya, dalam menjaga kualitas air lokasi budidaya tersebut, berdasarkan hasil wawancara bahwa pakan yang diberikan tidak boleh berlebih, karena nantinya sisa – sisa pakan tersebut akan mengendap dibawah dan akan menjadi racun sehingga akan mempengaruhi kualitas perairan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Azwar (2004), bahwa sebaiknya pakan yang diberikan tidak boleh berlebih, karena semakin banyak sisa pakan yang terbuang ke perairan, maka akan menyebabkan meningkatnya kandungan bahan organik di perairan yang akan mempengaruhi kualitas air.
                                                                                                                                            
3.3.1.2   Lokasi Kedua
Berdasarkan hasil praktek lapang yang dilakukan pada lokasi kedua yang berada di desa gebang rejo kabupaten poso, pada budidaya ikan nila    (Oreochromis niloticus) dan ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu dengan  menggunakan karamba jaring tancap dengan kata lain menggunakan sistem karamba permanen yang mengharapkan sumber perairan dari sungai. Lokasi karamba tersebut memiliki ukuran yaitu 2 x 4 meter dalam 1 petak dan terdapat 2 petak pada karamba tersebut. Mengenai alat yang digunakan pada karamba tersebut yaitu jarring sebagai penampung ikan, kayu serta bambu yang digunakan untuk dinding karamba tersebut. Berdasarkan hasil wawancara bahwa kedalaman karamba tersebut yaitu 1 meter.
Berdasarkan hasil wawancara, sumber ikan tersebut berasal dari bibit yang berukuran 3 cm dengan harga Rp.400 yang diambil disekitaran wilayah kabupaten poso kemudian dibesarkan di karamba tersebut. Pada pemberian pakanya yaitu dengan menggunakan pelet dan kangkung, dimana pemberian pakanya dilakukan secara teratur yakni mulai dari pagi jam 6, siang jam 11 dan sore hari pada jam 5. Berdasarkan pernytataan narasumber, untuk menjaga kualitas lingkungan karamba tersebut terutama pada sampah – sampah yang masuk ke dalam karamba harus dilakukan pembersihan dengan menepuk atau menggoyang – goyang jaring karamba, sehingga sampah – sampah yang menempel pada jaring tersebut jatuh ke dasar perairan kemudian sampah tersebut diangkat untuk menjaga kualitas perairan. Akan tetapi berdasarkan hasil pengamatan, bahwa sumber air yang digunakan masih dalam kondisi kualitas air yang kurang baik. Berdasarkan pernyataan Azwar (2004), bahwa di dalam mengelolah suatu budidaya khusnya ikan, pengelolaan yang baik itu salah satunya harus mempertimbangkan lingkungan lokasi budidaya terutama terhadap sumber air yang akan digunakan agar tidak menjadi parameter negative bagi kualitas air yang digunakan. Kemudian untuk jangka pembesarannya dibutuhkan waktu sekitar 5 – 6 bulan dalam hal ini termasuk dilakukannya panen. Setelah panen, dilakukan proses pemasaran diwilayah kabupaten poso.

3.3.1.3       Lokasi Ketiga
Berdasarkan hasil praktek lapang yang dilakukan pada lokasi ketiga yang berada di danau poso, pada budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) yaitu dengan  menggunakan karamba jaring tancap dengan kata lain menggunakan sistem karamba permanen yang mengharapkan sumber perairan dari sungai. Kemudian mengenai alat karamba tersebut menggunakan jaring, kayu serta bambu yang merupakan dinding dari karamba tersebut. Berdasarkan hasil wawancara, pada peletakan karamba tersebut dengan ketinggian 2 meter dari dasar perairan. Untuk dindingnya dibuat rapat untuk mecegah ikan tidak keluar dari lokasi karamba dan juga untuk memperkokoh karamba tersebut.
Kualitas air sangat berpengaruh terhadap organisme yang dibudidayakan, salah satu contoh dalam mengelolah kualitas air dalam kondisi agar tidak terjadi pencemaran adalah dengan memberikan pakan yang tidak berlebih. sebaiknya pakan yang diberikan tidak boleh berlebih, karena semakin banyak sisa pakan yang terbuang ke perairan, maka akan menyebabkan meningkatnya kandungan bahan organik di perairan yang akan mempengaruhi kualitas air Azwar (2004).




3.3.2   Kolam
Berdasarkan hasil praktek lapang yang dilakukan pada lokasi balai benih ikan sentral (BBIS) yang berada di desa pandiri kabupaten poso, terdapat berbagai macam budidaya ikan diantaranya budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan lele (Clariass sp), ikan mas  (Cyprinus carpio) ikan patin dan ikan bawal. Akan tetapi pada lokasi budidaya tersebut, perioritas utama yaitu ditujukan untuk budidaya pembenihan ikan nila (Oreochromis niloticus).
Berdasarkan hasil pengamatan praktek, bahwa dalam budidaya ikan yang berada dilokasi tersebut dibudidayakan di kolam. Dimana sistem kolam tersebut merupakan sistem paralel artinya menggunakan saluran air yang terus – menerus masuk kedalam kolam tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Susanto (2005), bahwa sistem kolam dimana sumber media utama untuk tempat hidup ikan yaitu air dibiarkan masuk secara terus – menerus ke dalam kolam disebut sistem paralel.
Berdasarkan hasil pengamatan praktek lapang, bahwa sumber air yang digunakan bersumber dari air bendungan yang terdapat di pegunungan. Air tersebut juga terkadang mencemari lokasi kolam yang dipengaruhi oleh aktifitas manusia seperti dari lahan pertanian terhadap penggunaan pestisida yang mengalir menuju sungai kemudian terbawa masuk ke dalam kolam tersebut. Faktor lain berdasarkan hasil wawancara dipengaruhi juga oleh pengaruh cuaca seperti curah hujan yang akan mempengaruhi kondisi air menjadi keruh dan itu akan berpengaruh terhadap kualitas air yang digunakan untuk organisme budidaya tersebut serta pemberian pakan yang berlebih.
Kemudian mengenai pengelolaanya berdasarkan hasil wawancara, bahwa sebelum dilakukanya perlakuan, kolam terlebih dahulu dilakukan pengeringan     ± selama 2 minggu yang bertujuan untuk menghilangkan bahan organik yang bersifat toksin kemudian masuk pada pemupukan dengan menggunakan pupuk urea yang bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami seperti plankton.          Pada kolam tersebut berdasarkan hasil wawancara, bahwa tidak dilakukan proses pengapuran karena air yang berada dikolam tersebut bersifat basah.
Kemudian setelah ikan dikawinkan berdasarkan hasil wawancara bahwa benih ikan ditebar. Sebelumnya dalam satu kali memijah akan menghasilkan 30 ribu benih ikan nila. Akan tetapi ada juga benih ikan yang mati sehingga mengurangi jumlah benih yang ditargetkan. Hal tersebut dikarenakan karena kualitas air yang kurang baik sehingga benih kurang mampu beradaptasi pada kondisi tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, berdasarkan hasil wawancara bahwa salah satu upaya untuk pengelolaan kualitas air pada kolam tersebut agar tidak tercemar yaitu dengan menggunakan sistem penyaringan air pada inlet atau pintu masuk sumber air. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah bahan – bahan organik yang bersifat racun yang masuk ke dalam kolam yang berasal dari air yang digunakan yang akan mempengaruhi kualitas air di kolam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kordi dan Tancung (2007) bahwa salah satu pengelolaan kualitas air untuk kolam budidaya yaitu dengan melakukan pemasangan penyaringan yang bertujuan untuk menyaring air yang banyak mengandung kotoran limbah, baik dalam bentuk partikel organik maupun anorganik. Kemudian salah satu pengelolaanya yang lain berdasarkan pernyataan narasumber yaitu dengan pemberian pakan yang tidak berlebih, karena jika berlebih maka sisa – sisa pakan tersebut akan mempengaruhi kualitas air. Hal ini sesuai dengan pernyataan Djarirah (1995), bahwa bahaya yang serius jika terjadi kelebihan jumlah makanan yang diberikan. Karena jika pakan yang diberikan tidak termanfaatkan, maka akan meningkatkan pencemaran kolam. Dimana sisa – sisa makanan yang tidak termakan dan mengalami proses dekomposisi (pembusukan/penguraian) dapat menimbulkan racun bagi ikan.
Selanjutnya, untuk pakannya sendiri diberi pelet yang memiliki tingkat protein 36 %. Kemudian untuk proses pemasarannya dilakukan baik dipasarkan di wilayah kabupaten poso maupun sampai diekspor ke luar daerah seperti daerah tentena, palu, ampana dan lain – lain.












IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktek lapang, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Untuk budidaya ikan air tawar, kebanyakan masyarakat menggunakan metode karamba jaring tancap dan umumnya pembudidaya lebih banyak membudidayakan ikan nila (Oreochromis niloticus).
2.    Untuk karamba jaring tancap, pada umumnya metode atau cara kerjanya sama, kemudian alat yang digunakan umumnya juga sama.
3.    Untuk metote budidaya dikolam menggunakan sistem paralel dan prosesnya mulai dari pengeringan kolam, pemupukan, penebaran benih, pemberian pakan hingga proses pemasaran.

4.2 Saran
            Saran praktikan dalam pembudidayaan tersebut khususnya pada metode budidaya karamba, perlu diperhatikan kualitas perairannya demi kelangsungan hidup organisme budidaya.






DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Z.A. dkk. 2004. Pengembangan Budidaya di Perairan Waduk. Pusat Riset Perikanan. Jakarta.

Djarirah, S. A., 1995. Pembenihan dan PembesaranIkan Nila Merah  Secara intensif. Kanisius. Yogyakarta.

Juniawati, 2004. Budidaya ikan air tawar. CV P & G Kilat Jaya. Bandung.
Soeseno, S. 1984. Perkenalan Ikan Mujair. PT Gramedia, Jakarta
Rochdianto, A. 2005. Analisis Finansial Usaha Pembenihan Ikan Karper (Cyprinus carpio Linn) di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Skripsi S1 FE, Universitas Tabanan.
Khairuman, 2008.  Budi Daya Ikan Mas Secara Intensif."AgroMedia Pustaka. Jakarta.."
Kordi. K. H. G. M. Dan B. A. Tancung. 2007. Pengelolan Kualitas Air. Rineka Cipta. Jakarta.

Militer, B., 2004. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS). Sulawesi Tengah.
Mustafa. 1992. Ekologi Sulawesi. Gadjah Mada Univ. Press, Yogyakarta.
Susanto, H., 2005. Budidaya ikan dikolam. Penebar swadaya, Jakarta.
Susanto, H., 2009. Budidaya ikan dipengarangan. Penebar Swadaya, Jakarta.




















LAMPIRAN

























Gambar 1. Karamba Jaring Tancap di Desa Bonesompe Kabupaten Poso.





















Gambar 2. Ikan Sidat yang dibudidayakan di Karamba Jaring Tancap di Desa Bonesompe Kabupaten Poso.























Gambar 3. Ikan Nila yang dibudidayakan di Karamba Jaring Tancap di Desa Bonesompe Kabupaten Poso.




















Gambar 4. Karamba Jaring Tancap di Desa Gebang Rejo Kabupaten Poso.





















Gambar 5. Karamba Jaring Tancap di Danau Poso.


Gambar 6. Ikan Nila yang dibudidayakan di Karamba Jaring Tancap di Danau Poso.























Gambar 7. Kolam Balai Benih Ikan Sentral di Desa Pandiri Kabupaten Poso.


Gambar 8. Benih Ikan Mas di Balai Benih Ikan Sentral di Desa Pandiri Kabupaten Poso.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar